{"id":1116,"date":"2026-03-06T08:10:07","date_gmt":"2026-03-06T08:10:07","guid":{"rendered":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/?p=1116"},"modified":"2026-03-06T13:56:05","modified_gmt":"2026-03-06T13:56:05","slug":"kisah-pengembangan-game-tunic","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/2026\/03\/06\/kisah-pengembangan-game-tunic\/","title":{"rendered":"Bikin Game Indie yang Kelihatannya Simpel Ternyata Butuh Waktu 7 Tahun? Ini Kisah di Balik Pengembangan Tunic"},"content":{"rendered":"<p>Game indie Tunic lahir dari ide Andrew Shouldice untuk menciptakan dunia yang misterius dan penuh rahasia. Proses pengembangannya berlangsung sekitar tujuh tahun dengan banyak iterasi desain dan mekanik gameplay.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1117 aligncenter\" src=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/03\/KSalsBYWb0IuDrdD1SbptAd6.jpg\" alt=\"\" width=\"392\" height=\"392\" \/><\/p>\n<p><em>Source: Tunic,\u00a0<a class=\"\" href=\"https:\/\/www.playstation.com\/en-id\/games\/tunic\/\">Playsation Page<\/a><\/em><\/p>\n<p>Game indie berjudul Tunic mungkin terlihat sederhana, tetapi proses di balik layarnya sangat kompleks. Karya Andrew Shouldice ini lahir dari ide untuk menciptakan dunia yang misterius dan penuh rahasia. Proses pengembangan Tunic berlangsung sekitar tujuh tahun, melibatkan banyak iterasi desain dan mekanik gameplay. Lantas, bagaimana kisah lengkapnya? Simak ulasan berikut.<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt\">Awal Pengembangan<\/span><\/h2>\n<div>\n<p data-start=\"390\" data-end=\"625\">Seorang programmer bernama Andrew Shouldice menciptakan game indie Tunic dari ide pribadinya. Setelah bekerja sekitar enam tahun di industri game, ia memulai proyek independen dengan konsep dunia penuh misteri. Andrew ingin pemain merasakan sensasi menjelajah dunia yang belum dikenal. Ia sengaja merancang pengalaman yang membuat pemain merasa tersesat di lingkungan baru, sehingga mereka harus menemukan rahasia secara mandiri.<\/p>\n<p data-start=\"390\" data-end=\"625\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/www.stuff.tv\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2023\/04\/Andrew-Shouldice-Headshot.jpg\" alt=\"Stuff meets BAFTA-winning indie developer Andrew Shouldice | Stuff\" width=\"560\" height=\"373\" \/><em>Source: Andrew Shouldice, <a href=\"https:\/\/www.stuff.tv\/features\/stuff-meets-bafta-winning-indie-developer-andrew-shouldice\/\">Image<\/a><\/em><\/p>\n<p data-start=\"390\" data-end=\"625\">Dalam proses desain, Andrew mengambil inspirasi dari The Legend of Zelda. Game legendaris tersebut terkenal karena rasa eksplorasi dan misterinya. Oleh karena itu, ia mencoba menghadirkan kembali pengalaman klasik tersebut dalam balutan versi modern yang segar.<\/p>\n<\/div>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt\">Desain<\/span><\/h2>\n<p>Pada awal pengembangan, Andrew mencoba membuat karakter manusia. Namun, ia mengalami kesulitan saat membuat model 3D. Karena tantangan ini, ia beralih memilih karakter rubah antropomorfik sebagai protagonis utama. Ternyata, rubah tersebut terasa lebih cocok dengan dunia Tunic yang kecil dan misterius. Selain itu, karakter ini juga memberi identitas visual yang kuat bagi game indie tersebut.<\/p>\n<p>Andrew juga menggunakan perspektif isometrik untuk desain dunianya. Sudut pandang ini membantunya menyembunyikan berbagai rahasia di lingkungan game. Akibatnya, pemain harus mengamati lingkungan dengan teliti untuk menemukan jalur-jalur tersembunyi.<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt\">Mekanik Game<\/span><\/h2>\n<p>Salah satu elemen paling menarik dari Tunic adalah keberadaan manual di dalam game. Andrew merancang buku panduan yang dapat ditemukan pemain secara bertahap selama petualangan. Manual tersebut berisi peta, petunjuk, dan informasi mekanik gameplay. Yang menarik, beberapa halamannya menggunakan bahasa buatan yang tidak langsung dapat dipahami pemain. Dengan cara ini, Andrew mendorong pemain untuk menafsirkan simbol dan bereksperimen selama bermain.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1119 aligncenter\" src=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/03\/Screenshot-2026-03-06-142737.jpg\" alt=\"\" width=\"701\" height=\"394\" \/><\/p>\n<p><em>Source: ZELDA BREATH OF THE WILD,\u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/7zX3D98tt-U\">Youtube<\/a><\/em><\/p>\n<p>Sistem combat juga mengalami banyak perubahan selama pengembangan. Awalnya, Andrew merancang sistem pertarungan bergaya Souls-like. Kemudian, setelah memainkan Bloodborne, ia menyadari bahwa tempo pertarungan harus lebih cepat. Jadi, ia segera menyesuaikan mekanik combat agar cocok dengan karakter rubah yang lincah.<\/p>\n<h2><span style=\"font-size: 18pt\">Kesimpulan<\/span><\/h2>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-1120 aligncenter\" src=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/03\/Screenshot-2026-03-06-143224.jpg\" alt=\"\" width=\"691\" height=\"389\" \/><\/p>\n<p><em>Source: TUNIC Launch Trailer,\u00a0<a href=\"https:\/\/youtu.be\/Q5XpgTO7YN0\">Youtube<\/a><\/em><\/p>\n<p>Pengembangan Tunic membuktikan bahwa game indie yang terlihat sederhana bisa memiliki proses produksi yang sangat panjang. Andrew Shouldice pantang menyerah dan terus menyempurnakan desain game hingga mencapai pengalaman bermain yang diinginkan. Hasilnya, dengan dunia penuh rahasia, manual misterius, dan sistem eksplorasi yang kuat, Tunic berhasil menciptakan pengalaman unik bagi para pemain. Game ini juga menjadi contoh nyata bagaimana eksperimen dan iterasi dapat menghasilkan desain game yang lebih matang.<\/p>\n<p style=\"font-size: 11pt;margin-top: 40px;padding-top: 20px;border-top: 1px solid #eee\">Referensi:<br \/>\n<a href=\"https:\/\/youtu.be\/Q5XpgTO7YN0\">Tunic SteamPage<br \/>\nTunic Trailer<\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/youtu.be\/nOewo8V66W0\">The Secret Behind Designing Wonder and Mystery in Video Games<\/a><br \/>\n<a href=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/\">Game Application and Technology<\/a><\/p>\n<p><!-- Author Box --><\/p>\n<div style=\"flex-wrap: wrap;justify-content: space-between;background: linear-gradient(135deg, #fb8e16 0%, #e86c00 100%);padding: 20px;border-radius: 15px;color: white;margin: 50px 0\">\n<p><!-- Author --><\/p>\n<div style=\"flex: 1;min-width: 250px;align-items: center;margin-bottom: 10px\">\n<div style=\"width: 70px;height: 70px;border-radius: 50%;background: white;margin-right: 15px;overflow: hidden;border: 2px solid white;flex-shrink: 0\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-1043 size-full\" src=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2026\/02\/image011.png\" alt=\"Kelvin\" width=\"570\" height=\"570\" \/><\/div>\n<div>\n<h3 style=\"margin: 0 0 3px;font-size: 16px\">Kelvin<\/h3>\n<p style=\"margin: 0;font-size: 13px;font-weight: 600\">Author<\/p>\n<p style=\"margin: 0;font-size: 12px;opacity: 0.9\">Content Creator Intern @BINUS Game Application &amp; Technology<\/p>\n<p><!-- Editor --><\/p>\n<div style=\"flex: 1;min-width: 250px;align-items: center;padding-top: 20px;border-top: 1px solid #eee\">\n<div style=\"width: 70px;height: 70px;border-radius: 50%;background: white;margin-right: 15px;overflow: hidden;border: 2px solid white;flex-shrink: 0\"><img decoding=\"async\" style=\"width: 100%;height: 100%;object-fit: cover\" src=\"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-content\/uploads\/sites\/2\/2025\/07\/Fajar.jpg\" alt=\"Muhamad Fajar\" \/><\/div>\n<div>\n<h3 style=\"margin: 0 0 3px;font-size: 16px\">Muhamad Fajar<\/h3>\n<p style=\"margin: 0;font-size: 13px;font-weight: 600\">Editor<\/p>\n<p style=\"margin: 0;font-size: 12px;opacity: 0.9\">Lecturer @BINUS Game Application Technology<\/p>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Game indie Tunic lahir dari ide Andrew Shouldice untuk menciptakan dunia yang misterius dan penuh rahasia. Proses pengembangannya berlangsung sekitar tujuh tahun dengan banyak iterasi desain dan mekanik gameplay. Source: Tunic,\u00a0Playsation Page Game indie berjudul Tunic mungkin terlihat sederhana, tetapi proses di balik layarnya sangat kompleks. Karya Andrew Shouldice ini lahir dari ide untuk menciptakan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":704,"featured_media":1117,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9],"tags":[],"class_list":["post-1116","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/users\/704"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1116"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1129,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1116\/revisions\/1129"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1117"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/socs.binus.ac.id\/game\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}