Perkembangan teknologi kecerdasan buatan dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan yang sangat pesat, terutama dengan munculnya Generative AI. Teknologi ini tidak hanya mampu menganalisis data, tetapi juga menciptakan berbagai bentuk konten baru seperti teks, gambar, audio, hingga video. Kemampuan tersebut menjadikan Generative AI sebagai salah satu inovasi yang berpengaruh di berbagai industri, termasuk industri pengembangan game.

Pengertian Generative AI
Generative AI adalah kecerdasan buatan yang dapat menciptakan suatu konten seperti teks, foto, video, hingga audio berdasarkan prompt atau request pengguna. Generative AI (Gen AI) bergantung pada model machine learning, khususnya deep learning, yang menggunakan neural networks untuk mempelajari pola dari sejumlah besar data. Salah satu contoh generative AI adalah platform seperti Chat GPT dapat menghasilkan teks, dan dalam integrasi tertentu juga dapat menghasilkan gambar melalui model tambahan.

Cara kerja Generative AI
Gen AI dimulai dengan foundation model, yaitu model deep learning yang menjadi dasar dari berbagai jenis aplikasi dari generative AI. Salah satu foundation model yang paling umum digunakan sekarang adalah Large Language Models (LLMs) untuk pembuatan teks. Untuk menciptakan foundation model, dibutuhkan banyak data dari internet lalu melatih AI untuk memprediksi sesuatu sesuai dengan apa yang diperintahkan misalnya kata berikutnya dalam kalimat atau elemen berikutnya dalam gambar, hingga hasil akhirnya AI mampu mengolah prompt berdasarkan pola yang dipelajari selama training dan meresponsnya. Saat ini generative AI telah berhasil menciptakan teks, foto, video, audio, musik, software code, animasi, graphic design, lukisan, hingga simulasi dan menciptakan data sintetik.

Penerapan Generative AI dalam Industri Game
Pada awal Januari 2026 dalam Game Developers Conference (GDC), mereka merilis pernyataan dalam laporan industri game bahwa 52% responden menggunakan generative AI dalam perusahaan mereka, meski hanya 36% mengatakan bahwa mereka menggunakan generative AI hanya sebagai bagian dari pekerjaan mereka, beberapa mengatakan generative AI hanya menjadi pilihan opsional untuk sekarang. Sebanyak 81% responden menggunakan generative AI untuk research dan brainstorming, 47% untuk menulis email, penjadwalan dan membantu dalam coding. Data ini menunjukkan peningkatan penggunaan generative AI sebesar 30% dibandingkan tahun sebelumnya.

Gen AI pada mulanya digunakan pada non-player character (NPC) dalam game untuk meringkas waktu, cost, hingga tenaga dalam pengerjaannya, namun seiring berjalannya waktu generative AI mulai digunakan untuk concept art, visualisasi dalam game, texture, animasi, voice over, hingga sound. Salah satunya yang pernah menerapkan hal tersebut adalah game Where Winds Meet (2024), di mana terdapat penerapan AI untuk fitur scan dalam customize wajah karakter setiap penggunanya yang memungkinkan untuk mengambil data wajah apapun dan diolah menjadi wajah karakter yang akan dimainkan. Hal tersebut menjadi salah satu hal unik dalam game tersebut dan berhasil menggaet pengguna baru untuk mencoba fitur tersebut. Meskipun generative AI mengambil alih banyak tenaga kerja manusia, bagi developer indie, teknologi ini menjadi alat bantu yang signifikan dalam mempercepat proses produksi dengan sumber daya terbatas.

Kontroversi dan Isu Etika
Di sisi lain, penggunaan generative AI juga menimbulkan berbagai kekhawatiran, terutama terkait aspek hukum dan etika. Salah satu isu utama adalah risiko penggunaan karya orang lain tanpa izin dalam proses training model AI, yang kemudian menghasilkan output baru yang dianggap menyerupai karya asli. Hal ini memicu kritik terhadap penggunaan AI dalam pembuatan asset visual dalam game, karena dianggap berpotensi melanggar hak cipta.Contoh kasus terbaru pada 5 Mei 2026 lalu di mana game Neverness to Everness (NTE) yang dilaporkan menggunakan gambar dari potongan film yang kemudian diproses melalui AI dan digunakan sebagai salah satu asset in-game. Masalah ini menjadi semakin panas di mana sebelumnya salah satu pihak pengembang NTE menyatakan mereka tidak menggunakan AI dalam pembuatan asset maupun character portrait.

    Gambar asli dari film: Tenki no Ko (2019)                       Gambar dari dalam game NTE (2026)

Perkembangan Teknologi Gen AI
Perkembangan lain yang juga memicu perdebatan adalah pengumuman teknologi Deep Learning Super Sampling generasi kelima (DLSS 5) oleh NVIDIA pada acara GTC 2026. Teknologi ini merupakan bentuk AI-based upscaling dari generative AI yang dirancang untuk meningkatkan frame rate, hingga mengoptimalkan visual dengan diolah kembali. DLSS 5 sendiri menggunakan model AI untuk menganalisis warna, membaca motion vectors, hingga menambahkan pencahayaan dan tekstur baru sehingga dapat menciptakan visual baru yang sebelumnya tidak ada dalam game. Meski teknologi ini diakui dapat menjadi salah satu revolusi dalam dunia game di mana kualitas grafis dapat menjadi lebih baik, banyak player yang tidak setuju dengan adanya teknologi ini. Banyak player yang merasa hasil visual DLSS 5 berlebihan dan bisa menghilangkan identitas atau ciri khas artistik yang telah dirancang pada game sejak awal, mereka lebih memilih ketidaksempurnaan ciptaan manusia dibanding hasil peningkatan grafis yang menghilangkan ciri khas artistik game tersebut. Kehadiran teknologi ini juga menjadi kekhawatiran jika AI akan lebih dominan daripada menggunakan tangan manusia.

Berdasarkan berbagai respons terhadap perkembangan generative AI, khususnya dalam aspek visualisasi game design, penggunaannya masih menjadi bahan pertimbangan, terutama terkait isu etika dan hak cipta. Oleh karena itu, generative AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu (assistive tool), bukan sebagai pengganti kreativitas manusia. Selain itu, diperlukan regulasi yang jelas untuk memastikan penggunaan teknologi ini tetap menghormati hak cipta dan nilai artistik para kreator.

 

Referensi:

Author:

  • 2802399160 – Alysa Gozali
  • D7267 – Samson Ndruru, S.Kom., M.Kom