Sumber: AI Generated

Pernahkah kalian nonton series di Netflix, terus pas scene di tempat gelap atau langit malam, tiba-tiba muncul kotak-kotak aneh atau garis warna yang gak natural? Padahal langganan udah 4K, TV udah cukup bagus, dan internet juga lancar. Kenapa hampir setiap scene gelap di layanan streaming kelihatan “pecah” seperti itu?

Sebelum menyalahkan koneksi atau perangkat, ada baiknya kita lihat dulu skala data yang dimainkan layanan streaming. Stream 4K di Netflix rata-rata hanya menggunakan bitrate sekitar 15 sampai 25 Mbps, sementara cakram fisik 4K Ultra HD Blu-ray bisa membawa data 82 sampai 128 Mbps untuk konten yang sama. Artinya, Netflix mengirim gambar 4K dengan kira-kira hanya seperlima sampai sepertujuh data yang ada di Blu-ray. Bisa dibayangkan kalau kanvasnya sebesar 4K tapi cat yang dipakai cuma sedikit, hasilnya pasti tipis dan ada bagian yang kosong. Inilah akar dari macroblocking di scene gelap, color banding di gradasi langit, dan hilangnya tekstur halus yang sering kita keluhkan.

 

Block-Based Coding dan Mengapa Scene Gelap Selalu Kalah
Hampir semua codec video modern, mulai dari H.264, HEVC, sampai AV1, bekerja dengan cara yang mirip, yaitu memecah setiap frame jadi blok-blok kecil. Di H.264 ukurannya 4×4 sampai 16×16 piksel, di HEVC bisa sampai 64×64, dan di AV1 bahkan sampai 128×128. Setiap blok ini dianalisis, dicari kemiripannya dengan blok di sekitarnya atau di frame sebelumnya, lalu disimpan dalam bentuk yang ringkas. Kalau jatah data yang tersedia tipis, encoder terpaksa memakai pendekatan yang lebih kasar dan diskontinuitas di antara blok jadi terlihat jelas, inilah yang dikenal sebagai macroblocking.

Yang bikin scene gelap rentan adalah cara encoder mengalokasikan bit. Algoritma kompresi cenderung menganggap area gelap sebagai “low complexity” karena warnanya monoton dan detailnya minim, jadi jatah bit-nya dikurangi. Padahal mata manusia justru sangat sensitif terhadap perubahan halus di area gelap. Saat bit yang diberikan terlalu sedikit, transisi yang seharusnya halus dari hitam ke abu-abu gelap berubah jadi tangga warna yang kelihatan, atau bahkan jadi blok-blok kotak yang grafis banget. Algoritma encoder optimal secara matematis, tapi belum tentu optimal untuk persepsi manusia.

Contoh macroblocking dan color banding pada adegan gelap di layanan streaming.
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)

8-bit vs 10-bit: Akar Masalah Color Banding
Selain soal blok, ada faktor kedua yang khusus mengganggu di scene gelap, yaitu bit depth atau kedalaman warna. Sebagian besar konten Netflix non-HDR dikirim dalam format 8-bit, artinya tiap channel warna (merah, hijau, biru) hanya punya 256 tingkat gradasi. Total kombinasinya sekitar 16,7 juta warna. Kedengarannya banyak, tapi untuk menggambarkan transisi mulus dari hitam pekat ke abu-abu gelap, 256 tingkat itu sering nggak cukup.

Akibatnya muncul color banding atau false contour, garis-garis kasar di area yang harusnya gradasinya halus. Standar HDR seperti HDR10 dan Dolby Vision mewajibkan format 10-bit dengan 1.024 tingkat per channel (empat kali lebih banyak dari 8-bit) justru karena alasan ini. Studi dari Lomonosov Moscow State University menunjukkan bahwa banding paling kelihatan di layar berkontras tinggi seperti OLED dan TV HDR modern, tepatnya di area yang seharusnya menampilkan gradasi paling halus. Gabungan antara konten 8-bit, kompresi agresif, dan TV modern yang kontrasnya tinggi inilah yang bikin masalahnya makin kelihatan.

 

Solusi yang Belum Sempurna
Netflix sebenarnya sadar dengan masalah ini dari lama. Sejak 2018 mereka memakai sistem bernama Dynamic Optimizer yang menganalisis tiap shot dalam video, lalu memilih kombinasi bitrate dan resolusi terbaik berdasarkan metrik kualitas internal mereka yang disebut VMAF. Konsepnya, scene yang kompleks dapat jatah lebih banyak, scene sederhana dapat jatah lebih sedikit. Sayangnya, scene gelap kerap dianggap “sederhana” oleh algoritma meskipun secara visual sebenarnya butuh perlakuan ekstra.

Per Desember 2025, Netflix mengumumkan bahwa codec AV1 sudah menyumbang sekitar 30% dari seluruh stream mereka, dengan VMAF score rata-rata 4,3 poin lebih tinggi dari H.264 dan bandwidth sepertiga lebih rendah. AV1 juga punya fitur Film Grain Synthesis yang memisahkan grain film dari frame utama, lalu menambahkannya kembali saat decoding, jadi bit yang seharusnya habis buat grain bisa dialokasikan ke detail lain. Walaupun begitu, selama strategi Netflix masih mengejar efisiensi bandwidth seagresif sekarang, terutama buat pengguna di negara dengan koneksi terbatas, kompromi di scene gelap bakal sulit hilang total.

Jadi lain kali kalau lagi nonton adegan ruang interogasi yang gelap atau langit malam yang penuh kotak warna aneh, jangan langsung nyalahin TV atau Wi-Fi. Itu adalah hasil pertarungan algoritma yang harus memilih antara hemat bandwidth dan menjaga detail visual, dan area gelap kebetulan adalah korban paling kelihatan dari kompromi tersebut. Selama metrik objektif seperti VMAF masih belum sepenuhnya menyamai cara mata manusia memandang area low-light, scene gelap di streaming kemungkinan akan tetap “pecah” untuk waktu yang cukup lama.

Referensi:

Author:

  • 2440008430 – Joshua Manasye
  • D7267 – Samson Ndruru, S.Kom., M.Kom