Gambar 1. Cover dari game Doom (https://nordic.ign.com/doom-1993)

Doomgame legendaris yang dirilis1993 ini menjadi sebuah ikon dari game FPS klasikNamun, eksistensi Doom telah menjadi sebuah fenomena meme di internet berupa “Doom Run on Everything”. Banyak orang yang berhasil menjalankan di berbagai perangkat yang secara teknis sama sekali tidak didesain untuk bermain game, mulai dari kalkulator, telepon genggam jadul, hingga alat tes kehamilan. Bagaimana bisa Doom dimainkan di berbagai platform, bahkan di tempat yang tampaknya mustahil? 

Sejarah Doom dan Filosofi “It Runs Doom
Salah satu alasan utama Doom bisa berjalan di hampir semua perangkat adalah karena engine yang digunakan sangat ringan. Versi original dari permainan video Doom menuntut spesifikasi hardware yang sangat rendah menurut standar modernDoom hanya membutuh RAM yang berukuran kecil dan prosesor yang terbilang sederhana. Id Software selaku pengembang dari game Doom merilis source code dari Doom sehingga orang-orang dapat memporting Doom ke dalam banyak sistem melalui proyek open-source seperti doomgeneric atau Chocolate Doom. Fenomena ini kemudian menjadi semacam lelucon dan tantangan di antara penggemar “If it has a screen and a processorit can run Doom.” Ide ini melahirkan meme dan subkultur “Doom run on everything yang dimana orang-orang mencoba untuk menjalankan Doom di perangkat yang paling aneh.

Contoh Eksperimen
Salah satu eksperimen porting yang terkenal adalah menjalankan Doom di alat tes kehamilan (Pregnancy Test). Seorang programmer, Foone Turing, melakukan modifikasi pada perangkat tersebut. Dia mengganti komponen internal dengan chip yang berukuran kecil dan mampu menjalankan game dan menampilkan grafis monokrom sederhana. Karena ukuran layarnya terbilang sangast kecil dan memiliki warna yang terbatas, pengalaman dalam memainkan Doom terbilang sangat minimal. Akan tetapi, secara teknis Doom berhasil dijalankan.

Gambar 2. Doom berjalan di alat tes kehamilan (Sumber: Let’s talk about games!)

Contoh eksperimen yang lain adalah eksperimen untuk menjalankan Doom di microwave konvensional yang di-root. Eksperimen ini dilakukan dengan memasukkan .APK file dari Doom ke perangkat tersebut melalui ADB. Cara ini dapat dicapai dengan memanfaatkan bahwa beberapa smart microwave berbasis android telah memiliki layar, processor dan sistem operasi yang cukup fleksibel.

Kombinasi Prosesor, Layar, dan Kode Sumber yang Terbuka
Jadi, mengapa Doom bisa berjalan di perangkat aneh ini? Sederhananya, Doom tidak membutuhkan hardware yang berspesifikasi tinggi. Versi klasik dari DOOM hanya membutuhkan processor dasar dan sedikit memori dibandingkan dengan game yang berkembang saat ini. Di sisi lain, banyak perangkat yang digunakan sehari-hari memiliki prosesor dan layar yang cukup untuk melakukan rendering sederhana. Terdapat dua faktor utama yang mendukung Doom untuk berjalan di berbagai tempat seperti source-code dari Doom yang menjadi open-source dan kapabilitas dari pengguna untuk bisa mengubah dan memasukkan game Doom ke dalam firmware (sejenis software untuk yang terempel pada hardware untuk membuat perangkat bekerja). Dengan sistem porting Doom yang modular serta kemajuan komponen embed yang semakin murah dan kuat, porting Doom menjadi eksperimen populer dan komunitas menyukainya sebagai tantangan teknis yang juga bersifat artistik dan nostalgic.

 

Gambar 3. Doom berjalan di mesin ATM (Sumber: Cheezburger)

Apa Artinya Bagi Industri dan Budaya Gaming
Fenomena ini lebih dari sekadar iseng atau lelucon belaka. Eksperimen ini menunjukkan betapa fleksibelnya desain dari software klasik jika dipertahankan dan dipergunakan secara kreatif. Doom bukan hanya sekadar permainan biasa, tapi juga platform eksplorasi teknis. Eksperimen porting semacam ini dapat menginspirasi berbagai pengembang modern untuk berpikir tentang bagaimana game bisa memanfaatkan hardware non-tradisional, dan menunjukkan potensi besar komunitas open-source dalam menjaga dan memperluas warisan game klasik.

Kesimpulan
Doom bisa dimainkan di HP jadul, microwave, bahkan alat tes kehamilan asalkan perangkat apa pun itu memiliki prosesor dan layar. Hal ini dapat terjadi karena engine-nya ringan, open-source, dan antusiasme dari orang-orang untuk melakukan porting, fenomena “Doom runs on everything” bukan hanya sekadar meme di internet, melainkan simbol betapa fleksibelnya game klasik ini. Dalam dunia teknologi saat ini, di mana hampir semua perangkat memiliki prosesor dan layar, tidak mengherankan kalau Doom akan tetap hidup dan terus di-porting ke tempat-tempat paling tidak terduga.

Referensi:

Author:

  • Daniel Kevin Jhon Feko Wahyudi, S.Kom – FDP Scholar