Bali, November 2026 — Prof. Derwin Suhartono, Professor of Artificial Intelligence sekaligus Dekan School of Computer Science (SoCS) BINUS University, hadir sebagai pembicara panel dalam forum internasional QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 yang diselenggarakan di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali, pada 3 November 2026. Mengusung tema “Advancing Education for Purpose and Impact”, agenda ini mempertemukan para pimpinan universitas dan praktisi industri se-kawasan Asia-Pasifik, di mana BINUS University dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan tahun ini.

Prof. Derwin berpartisipasi pada sesi diskusi panel bertajuk “Orchestrating a Human-Centred Society: Building Collaborative Ecosystems”. Dimoderatori oleh Dr. Sarah Todd (Principal Consultant QS Quacquarelli Symonds), sesi ini turut menghadirkan Dr. Shih-Torng Ding (Executive Vice President National Taiwan University sekaligus CEO NTU System) dan Dr. Bambang Susilo (Executive Vice President GRC PT ITSEC Asia Tbk). Ruang dialog ini berfokus mengkaji langkah kolaboratif perguruan tinggi dalam menghubungkan institusi akademik, industri, pemerintah, dan masyarakat guna memastikan arah perkembangan kecerdasan buatan tetap bertanggung jawab, inklusif, serta berpusat pada kepentingan kemanusiaan.

Dalam paparannya, Prof. Derwin menyoroti bahwa tantangan mendasar perguruan tinggi saat ini bukan sekadar mengajarkan komputasi, melainkan mendampingi mahasiswa agar memahami perkembangan AI dan mengenali relevansinya dengan bidang studi yang ditekuni. Menjawab hal tersebut, integrasi pembelajaran AI dan kolaborasi lintas disiplin menjadi krusial agar mahasiswa mampu memadukan kecakapan teknis dengan pemahaman atas persoalan bisnis maupun dinamika sosial. Salah satu inisiatif konkret yang didorong adalah membuka ruang pengerjaan proyek akhir atau tugas akhir lintas program studi, sehingga mahasiswa terbiasa merumuskan solusi berbasis AI dari beragam sudut pandang yang saling melengkapi.

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa ruang eksplorasi inovasi yang inklusif di lingkungan kampus merupakan fondasi utama dalam menciptakan teknologi yang berakar pada kebutuhan riil masyarakat. Ketika mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda dipertemukan untuk memecahkan persoalan nyata bersama mitra industri dan pemangku kepentingan, peran perguruan tinggi bertransformasi menjadi katalis ekosistem yang hidup. Pendekatan ini memastikan bahwa luaran riset dan rekayasa cerdas yang dihasilkan di ruang kelas tidak berhenti sebagai artefak teknologi, melainkan menjadi solusi aplikatif yang adaptif terhadap masa depan.

Kehadiran dalam forum internasional ini menjadi bagian dari langkah aktif School of Computer Science (SoCS) BINUS University dalam membangun ekosistem akademik yang adaptif terhadap disrupsi teknologi. Dengan menempatkan manusia sebagai pusat dari pengembangan kecerdasan buatan, fakultas memastikan proses pembelajaran dan riset di kampus tetap relevan, inklusif, serta berorientasi pada penciptaan dampak sosial yang berkelanjutan.