Figure 1. Prototipe Project Suncatcher di fasilitas Planet Labs, San Francisco
(https://www.npr.org/2026/10/01/nx-s1-5983697/project-suncatcher-google-ai-data-center-space)

Bayangkan pusat data yang tidak menambah beban listrik kota, karena panel suryanya nyaris selalu menghadap Matahari. Setahun lalu gagasan itu masih sebatas pengumuman Google. Pada 1 Oktober 2026 statusnya berubah: prototipe Project Suncatcher mengorbit Bumi membawa empat chip TPU. Satelit ukuran kulkas itu naik lewat misi rideshare Transporter-18 milik SpaceX bersama Planet. Wajah prototipenya terlihat pada Figure 1.

Apa Itu Project Suncatcher?

Project Suncatcher adalah moonshot riset Google untuk menaruh komputasi machine learning di luar angkasa. Diumumkan November 2025, konsepnya berupa konstelasi satelit bertenaga surya berisi TPU (Tensor Processing Unit, chip AI andalan Google) yang terhubung lewat laser. Artikel SOCS November lalu membahas satellite computing secara umum; kali ini fokusnya satu proyek beserta prototipenya. Riset dasarnya disusun tim Travis Beals dan Blaise Agüera y Arcas, terbit peer-reviewed di jurnal Joule. Eksperimen orbitnya menjalankan model Gemma di empat TPU hanya 15 menit sekali jalan karena kendala panas; misinya dirancang setahun.

Mengapa Gagasan Ini Masuk Akal

Logika energinya terbaca dari angka riset Google. Matahari memancarkan daya lebih dari 100 triliun kali produksi listrik umat manusia; di orbit yang tepat, panel surya bisa 8 kali lebih produktif dengan pasokan nyaris kontinu. Konstelasi masa depan direncanakan lewat dawn-dusk sun-synchronous orbit untuk meminimalkan bayangan Bumi dan mengurangi baterai. Analisis tim memperkirakan biaya peluncuran turun di bawah $200/kg pada pertengahan 2030-an. Pada titik itu, biaya pusat data orbit diperkirakan setara biaya energi data center darat per kilowatt per tahun.

Bumi vs Orbit

Perbandingannya bisa dibaca dari enam aspek:

Aspek Data center di Bumi Data center di orbit
Energi Jaringan listrik kota yang mulai diperdebatkan warga Panel surya 8 kali lebih produktif, nyaris kontinu
Pendinginan Aliran udara dan air Radiator saja, dipadukan heat pipe
Bandwidth antar node Kabel dan switch dalam satu gedung Laser puluhan terabit per detik; demo lab baru 800 Gbps per arah
Latensi Dekat dengan pengguna Laser lintas ratusan mil lebih lambat
Maintenance Teknisi masuk ruangan Biaya teramplifikasi 10 sampai 100 kali
Regulasi dan lingkungan Oposasi terhadap pusat data boros daya Emisi roket dan polusi re-entry
Figure 2. Ilustrasi penulis: empat uji misi prototipe dan tonggak waktunya
(https://blog.google/innovation-and-ai/models-and-research/google-research/google-project-suncatcher-facts)

Yang Membuatnya Sulit

Uji pertama terjadi sebelum satelit sempat bekerja. Perjalanan ke orbit rendah berlangsung sekitar 10 menit dengan akselerasi hingga 10 g; chip bisa merasakan 50 sampai 100 g, meski uji getar tiga sumbu berhasil. Radiasi jadi uji kedua: TPU Trillium dibombardir berkas proton 67 MeV di laboratorium UC Davis. Memori HBM baru menunjukkan kelainan pada dosis 2 krad(Si), hampir tiga kali dosis lima tahun (750 rad(Si)). Pendinginan jadi uji ketiga karena ruang hampa tidak mengenal konveksi; radiator pun jadi komponen terberat misi. Uji keempat menunggu di 2027; rangkaiannya terlihat pada Figure 2. Dua satelit harus mengunci tautan laser puluhan terabit per detik, presisinya seperti mengenai koin dari jarak bermil-mil saat keduanya bergerak.

Biaya perawatan melengkapi daftar itu. Brandon Lucia, profesor Carnegie Mellon University, menaksir biaya dan kompleksitas operasi orbit 10 sampai 100 kali lebih besar dibanding di Bumi. Pemimpin proyek Travis Beals memperkirakan skema ini belum lebih murah dalam lima tahun ke depan. Pusat data darat dan orbit akan lama berdampingan. Google sendiri menyebut proyek ini moonshot, bukan peta jalan komersial.

Kesimpulan

Kalkulasi energi membuat gagasan ini masuk akal: orbit yang tepat mengubah sinar Matahari menjadi pasokan daya nyaris kontinu. Yang membuatnya sulit adalah soal yang hanya bisa dijawab di orbit: presisi laser formasi rapat dan penuaan chip tanpa teknisi. Prototipe yang meluncur 1 Oktober 2026 mengubah proyek ini dari ide di kertas jadi eksperimen yang berjalan. Paper tim Google layak dibaca pelajar sistem terdistribusi. Uji laser 2027 akan menentukan apakah formasi satelit bisa dipercaya sebagai satu cluster komputasi.

Penulis: Emmanuel Daniel Widhiarto, S.Kom – FDP Scholar

Referensi

Google Research. (2025). Exploring a space-based, scalable AI infrastructure system design. https://research.google/blog/exploring-a-space-based-scalable-ai-infrastructure-system-design

Google. (2026). Behind Project Suncatcher, our moonshot to put AI in space. https://blog.google/innovation-and-ai/models-and-research/google-research/google-project-suncatcher-facts

Google. (2026). Our Project Suncatcher prototype satellite is in orbit. https://blog.google/innovation-and-ai/models-and-research/google-research/project-suncatcher-prototype

NPR. (2026). Google launches Project Suncatcher, a step towards AI data centers in space. https://www.npr.org/2026/10/01/nx-s1-5983697/project-suncatcher-google-ai-data-center-space