Satu miss concept yang sering menghantui UI/UX designer pemula adalah anggapan bahwa redesign berarti hanya membuat sesuatu menjadi “lebih cantik”. Kita sering terjebak pada pemilihan color pallete yang sedang tren, tipografi yang fancy, atau animasi yang memanjakan mata. Namun, sebagai UI/UX designer, kita harus bertanya: apakah estetika saja cukup? Jawabannya tidak.

Dalam dunia UI/UX, sebuah desain yang keren namun membingungkan adalah sebuah kegagalan. Redesign sebenarnya adalah sebuah misi penyelamatan fungsionalitas. Ini adalah tentang bagaimana sistem menjadi lebih efisien, mempermudah navigasi, dan yang paling krusial adalah tetap menghargai fondasi desain yang sudah ada sebelumnya.

Redesain Bukan Sekadar Perubahan Estetika

Setiap platform memiliki identitas dan alasan mengapa pengguna setia tetap bertahan. Sebagai contoh, Codeforces, aplikasi yang dikenal sebagai rumah bagi para competitive programmer karena kecepatannya, sistem rating yang kompetitif, dan fungsinya yang sangat to-the-point.

Saat kami melakukan redesign pada platform ini, tantangan terbesarnya bukan membuang desain lama secara total, melainkan mempertahankan jiwa platform tersebut sambil membersihkan hambatan visual yang ada. Sebagai designer kita tidak boleh egois, kita harus mendengarkan apa yang dibutuhkan pengguna lama sambil tetap membukakan pintu yang ramah bagi pengguna baru.

Pertimbangkan Menjaga Orisinalitas Fondasi Desain

Redesign yang sukses adalah desain yang membuat pengguna menyelesaikan tugasnya lebih cepat dari sebelumnya. Jika pada desain lama seorang user butuh waktu lama untuk mencari tombol submit atau informasi kontes, maka di desain baru kita harus mampu memangkas alur tersebut secara intuitif.

Fungsionalitas berarti mengurangi cognitive load (beban pikiran). Kita ingin pengguna Codeforces fokus sepenuhnya pada logika algoritma yang sedang mereka kerjakan, bukan pusing mencari di mana letak filter soal atau tombol registrasi. Di sini, kegunaan (usability) berdiri jauh di depan estetika.

Fokus Pada Ketepatan Konteks, Bukan Sekadar Mengikuti Tren

Tren desain seperti Glassmorphism atau warna-warna neon mungkin terlihat keren, tapi apakah itu tepat untuk platform teknis yang digunakan untuk berjam-jam menatap layar? Belum tentu.

Dalam kasus ini, kami memilih pendekatan Clean Design. Mengapa? Karena ketepatan konteks adalah bagian dari fungsionalitas. Pengguna membutuhkan kontras yang tinggi untuk membaca kode, hirarki informasi yang jelas untuk memantau leaderboard, dan layout yang tidak mendistraksi. Kami menerapkan prinsip bahwa “estetika yang baik adalah estetika yang memprioritaskan fungsi.”

Link Prototype Figma : https://www.figma.com/proto/zyQnawqz6xN4REDXlP2LMa

Bukti Bahwa Fungsi Itu Bekerja

Pada akhirnya, hasil kerja kami diuji bukan oleh nilai estetika secara kasat mata, melainkan melalui Usability Testing. Apakah user merasa lebih nyaman? Apakah mereka merasa terbantu dengan adanya fitur baru seperti Progress Tracking di dashboard profile?

Berdasarkan hasil pengujian kami, sebanyak 94,4% responden menyatakan puas dengan hasil redesign ini. Angka ini adalah validasi bahwa perubahan yang mengedepankan fungsi dan kebutuhan nyata akan selalu menemukan tempat di hati pengguna. Kami tidak hanya mengubah tampilan, kami memperbaiki cara pengguna berinteraksi dengan sistem.

 

Desain Adalah Solusi, Bukan Dekorasi

Melalui proyek ini, kami belajar bahwa menjadi designer berarti menjadi seorang problem solver. Kita tidak sedang melukis di atas kanvas kosong, kita sedang memperbaiki jembatan yang sedang dilalui oleh ribuan orang setiap harinya.

Redesign bukan tentang seberapa banyak warna yang kita tambahkan, tapi tentang seberapa banyak hambatan yang kita hilangkan. Karena pada akhirnya, desain yang benar-benar baik adalah desain yang bekerja dengan sempurna, bahkan sebelum penggunanya menyadari betapa indahnya itu.


Penulis:

Kelompok 1 PPTI 25

  • Frolentika
  • Hebert Karsten Juwono
  • Kevin Pierre Rafael Sabran
  • Luigi Emiliandra
  • Muhammad Naufal Dwitama