People Innovation Excellence

Penggunaan Latent Semantic Analysis (LSA) dalam Pemrosesan Teks

Latent Semantic Analysis (LSA) merupakan sebuah metode yang memanfaatkan model statistik matematis untuk menganalisa struktur semantik suatu teks. LSA bisa digunakan untuk menilai esai dengan mengkonversikan esai menjadi matriks-matriks yang diberi nilai pada masing-masing term untuk dicari kesamaan dengan term referensi. Secara umum, langkah-langkah LSA dalam penilaian esai adalah sebagai berikut:

1. Text Preprocessing
Preprocessing adalah proses normalisasi teks sehingga informasi yang dimuat merupakan bagian yang padat dan ringkas namun tetap merepresentasikan informasi yang termuat didalamnya. Dalam tahap ini, terdapat beberapa proses diantaranya:

  • Stopwords Removal : Pada stopwords removal, kata-kata yang tergolong sebagai kata depan, kata penghubung, dan kata-kata lain yang tidak mewakili makna dari kalimat akan dieliminasi. Contohnya adalah sebagai berikut:
    • Menghapus kata-kata “am, is, are, and, in, etc” dan berbagai singkatan. Apabila dalam konteks Bahasa Indonesia, contoh kata-kata yang dihapus adalah “yang, di, ke, dari, pada, dalam, dan”.
      Contoh daftar kata-kata yang termasuk dalam stopword bisa dilihat pada tautan: http://www.ranks.nl/stopwords
    • Mengubah kata yang diawali dengan huruf besar menjadi huruf kecil.Di bawah ini adalah contoh dari kalimat sebelum dan sesudah proses stopwords removal:
      • Sebelum proses stopwords removal : “Latent Semantic Analysis (henceforth LSA) is a linguistic theory and method. It has been used in natural language processing to determine semantic relationships in large bodies of corpora.”
      • Sesudah proses stopwords removal : “latent semantic analysis linguistic theory method used natural language processing determine semantic relationships large bodies corpora”
  • Stemming : Langkah berikutnya adalah stemming. Pada proses ini, kata akan dinormalkan menjadi kata dasar pembentuk kata tersebut. Caranya adalah dengan menghilangkan imbuhan yang melekat pada kata, sehingga hasilnya adalah kata dasarnya. Apabila dalam Bahasa Inggris, proses stemming bisa mengikutsertakan pengembalian bentuk tense dari kata kerja bentuk ke-2 atau ke-3 menjadi kata kerja bentuk ke-1.
    Di bawah ini adalah contoh dari kalimat sebelum dan sesudah proses stemming:

    • Sebelum proses stemming : “latent semantic analysis linguistic theory method used natural language processing determine semantic relationships large bodies corpora”
    • Sesudah proses stemming : “latent semantic analysis linguistic theory method use nature language process determine relationship large body corpo”

2. Term-document Matrix
Setelah melalui stopwords removal dan stemming, matriks term-document dibangun dengan menempatkan kata hasil proses stemming (term) ke dalam baris. Matriks ini disebut term-document matrix. Setiap baris mewakili sebuah kata yang unik, sedangkan setiap kolom mewakili konteks dari mana kata-kata tersebut diambil. Konteks yang dimaksud bisa berupa kalimat, paragraf, atau seluruh bagian dari teks.
Di bawah ini merupakan contoh term-document matrix:

artikel derwin

Pada tabel di atas, baris pertama mewakili stemmed term (term 1, term 2, dst), dan bagian kolom mewakili konteks, yaitu teks. Nilai yang terletak pada setiap cell pada tabel menunjukkan berapa kali sebuah term muncul dalam sebuah dokumen. Contohnya, term 1 muncul 1 kali pada dokumen ke-1, dan muncul 2 kali pada dokumen ke-2, namun term 1 tidak muncul pada dokumen 3, dan seterusnya.

3. Singular Value Decomposition
Singular Value Decomposition (SVD) adalah salah satu teknik reduksi dimensi yang bermanfaat untuk memperkecil nilai kompleksitas dalam pemrosesan term-document matrix. SVD merupakan teorema aljabar linier yang menyebutkan bahwa persegi panjang dari term-document matrix dapat dipecah/didekomposisikan menjadi tiga matriks, yaitu :
– Matriks ortogonal U
– Matriks diagonal S
– Transpose dari matriks ortogonal V
Yang dirumuskan dengan :

artikel derwin 1

Hasil dari proses SVD adalah vektor yang akan digunakan untuk menghitung similaritasnya dengan pendekatan cosine similarity.

4. Cosine Similarity Measurement
Cosine similarity digunakan untuk menghitung nilai kosinus sudut antara vektor dokumen dengan vektor kueri. Semakin kecil sudut yang dihasilkan, maka tingkat kemiripan esai semakin tinggi.
Formula dari cosine similarity adalah sebagai berikut:

artikel derwin 2

Dari hasil cosine similarity, akan didapatkan nilai yang akan dibandingkan dengan penilaian manusia untuk diuji selisih nilainya.

 


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close